Workshop BKD dan SISTER, Wujud Nyata Implementasi “An-Nahl Berdampak” di UIN Imam Bonjol Padang

Di tengah hiruk-pikuk transformasi kelembagaan yang menuntut perombakan pola pikir dan keberanian baru, Lembaga Penjaminan Mutu UIN Imam Bonjol Padang mengambil langkah konkret, menyentuh langsung akar persoalan yang selama ini menghambat para dosen. Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) menggelar Workshop Optimalisasi BKD dan Penelusuran Data Historis SISTER di Hotel Imam Bonjol, sebuah kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Minggu hingga Selasa, 28–30 Juni 2026.

Acara yang secara resmi dibuka oleh Ketua LPM, Dr. Hermawati,M.Si., ini terasa lebih dari sekadar pelatihan teknis. Ia menjadi wajah nyata dari kebijakan besar kampus yang diberi nama An-Nahl Berdampak. Sebuah kebijakan yang lahir bukan dari ambisi berlebihan, melainkan dari pembacaan jernih atas realitas bahwa kampus keislaman hari ini tak cukup hanya menjaga tradisi, tetapi wajib berdialog dengan zaman dan menjawab gugatan sosial.

Dalam sambutannya, Dr. Hermawati menggarisbawahi bahwa perubahan status dari IAIN menjadi UIN telah membawa konsekuensi besar untuk membangun kerangka berpikir yang baru, di mana pengelolaan data dan mutu menjadi fondasi yang tak bisa ditawar.

Dengan nada tegas dan terus terang, ia mengakui bahwa selama ini para dosen kerap terjerat kendala teknis saat mengisi BKD dan memanfaatkan aplikasi SISTER. Mulai dari ketidaksinkronan data historis, kesulitan mengunggah bukti kinerja, hingga proses verifikasi yang berbelit. Daripada sekadar membuat aturan dari menara gading, LPM memilih pendekatan yang lebih manusiawi dan realistis. "Kami menugaskan admin dari setiap fakultas untuk turun langsung mendampingi para dosen," ujar Dr. Hermawati di hadapan para peserta. Langkah ini diambil sebagai bentuk keberpihakan, memastikan bahwa para pengajar tidak lagi berjuang sendirian menghadapi labirin administrasi digital.

Di sinilah titik temu antara workshop hari ini dengan semangat An-Nahl Berdampak. Dokumen kebijakan tersebut secara gamblang menyebutkan bahwa kampus masih menghadapi keterbatasan infrastruktur digital dan kesenjangan mutu antar fakultas. Dengan menghadirkan pendampingan teknis secara langsung, LPM berupaya menjawab celah itu menjadikan SISTER bukan sebagai beban, melainkan alat untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas. Workshop ini menjadi jembatan untuk menyinkronkan data historis dosen, memastikan bukti kinerja terunggah dan terverifikasi, serta mendukung pengisian BKD yang sesuai ketentuan.

Momentum pembukaan workshop ini juga terasa semakin istimewa dengan turut hadirnya dua petinggi kampus, yakni Wakil Rektor III, Prof. Nelmawarni, M.Hum., Ph.D, dan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Prof. Dr. Wakidul Kohar,M.Ag. Meskipun tidak bertindak sebagai pemateri atau narasumber, kehadiran mereka sepanjang kegiatan menunjukkan komitmen serius pimpinan universitas dalam mendampingi jalannya program ini. Keduanya turut berbaur memberikan perhatian dan berdiskusi langsung dengan para peserta, memastikan bahwa proses pengisian BKD dan penelusuran data melalui SISTER berjalan selaras dengan kebijakan akademik dan riset di lingkungan UIN Imam Bonjol. Pendampingan dari level pimpinan ini menjadi energi tambahan bagi peserta, sekaligus menegaskan bahwa perbaikan tata kelola data bukan hanya tugas LPM semata, melainkan gerakan kolektif seluruh elemen kampus.